Uang Bukan Segala-Galanya, Tapi Segala-Galanya Pake Uang

Benar gak sih, uang itu bukan segalanya?

Tapi Segala-Galanya Pake Uang

Mungkin ada benarnya juga. Karena, tidak semuanya harus diukur dengan uang. Dan sebenarnya, ada hal yang lebih penting dari pada uang itu sendiri.

Tapi ingat, segala-galanya di dunia ini pasti pake’ uang lho…..!

Apalagi, bagi kita yang berada di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan lain sebagainya.

Semuanya, pasti diukur dengan uang. Karena, tak ada yang gratis di kota-kota yang telah saya sebutkan barusan. Buang air kecil dan air besar aja, kudu bayar pake’ uang.

Mungkin, ada satu hal yang gratis di kota-kota besar seperti yang telah saya sebutkan, yaitu buang angin (baca: kentut), maaf ya bukan bermaksud jorok. Tapi, ini memang fakta yang ada lho….!

Maka dari itu, untuk hindari jebakan uang, setidaknya ada dua hal yang dapat kita jadikan landasan berpikir tentang uang.


PERTAMA: Pola Pikir Tentang Uang

Dari beberapa fakta yang ada dalam kehidupan sehari-hari, ada baiknya kita merekonstruksi (memperbaharui) pola pikir tentang uang. Sehingga, pola pikir yang baik tentang uang. Akan lahirkan persepsi (anggapan) yang baik juga tentang uang.

Memang benar, uang bukan segala-galanya. Tapi ingat lho…! Kalau kita gak punya uang, kita juga gak bisa ngapa-ngapain. Karena, segala-galanya di dunia ini harus pake’ uang, seperti yang telah saya jelaskan di awal tulisan ini.

Tentu, tak baik juga jika segala sesuatu itu diukur dengan uang. Sehingga, diri kita menjadi orang-orang yang pragmatis (mengukur segalanya dengan uang). Yang seolah-olah, segala sesuatu itu harus diukur dengan uang. Bahkan, bantuan yang seharusnya free (gratis), kita tarif-in juga pake uang. Ini, namanya keterlaluannnn…!

Contoh, kawan meminta anterin  ke tempat kerja. Ternyata Anda memasang tarif layaknya tukang ojek. Tentu, teman Anda akan males berteman dengan Anda yang terlalu perhitungan. Karena, Anda tak bisa membedakan mana pertemanan dan mana bekerja professional.

Namun, begitu juga sebaliknya. Jangan sekali-kali kita abaikan tentang uang itu sendiri. Karena, jika kita abai terhadpa uang, maka akan banyak orang yang mengabaikan terhadap kinerja kita. Sehingga, yang seharusnya pekerjaan kita dapat hasilkan uang banyak, malah hilang begitu saja. Karena, teman kita-lah yang Ngembat hasilnya.

Contoh, Anggap saja Anda bekerja ke teman Anda. Sebagai seorang teman, Anda percayakan saja kepada teman Anda pekerjaan dengan gaji dan segalanya. Anggap saja Anda digaji oleh kawan Anda Rp 4 juta per bulan. Tanpa ada hal lainnya, yang diberikan oleh kawan Anda.

Padahal, dari pekerjaan yang Anda lakukan, kawan Anda mendapatkan pundi-pundi rupiah yang cukup banyak. Dan pundi-pundi rupiah tersebut, tak sedikit pun dikabarkan berapa jumlahnya kepada diri Anda.

Memang benar, itu hak teman Anda sebagai bos (owner bisnis), apakah hendak mengabarkan atau tidak. Namun, Anda juga berhak dapatkan kompensasi yang lebih dari kinerja yang Anda berikan kepada teman Anda. Namun, karena Anda tak pernah memikirkan uang, membuat teman Anda abai terhadap uang yang seharusnya Anda terima (hak Anda berupa kompensasi di luar gaji pokok).

Dari dua contoh tersebut, dapat kita cerna bersama, bahwa kita harus menempatkan uang pada posisi tengah-tengah. Artinya, pola pikir kita, tetap menjadikan uang sebagai tujuan hidup kita. Sehingga kita semangat untuk bekerja. Dan, dalam posisi tertentu, uang itu bukanlah tujuan hidup kita yang utama. Akan tetapi, hanya sebagai media atau perantara untuk memposisikan kita sebagai manusia.

Contoh, Anda seorang karyawan yang baru saja bekerja. Sebelum bekerja, maka tanyakanlah berapa gaji Anda per bulan. Kemudian, fasilitas apa saja yang didapatkan. Selain gaji, uang apa lagi yang didapatkan. Dan kemudian, tanyakan juga kewajiban yang harus dikerjakan. Anda boleh juga mengajukan, kenaikan gaji jika seandainya kinerja Anda baik, yang berdampak pada peningkatan kinerja perusahaan.

Dan ketika ada teman Anda yang sedang membutuhkan bantuan uang, dan ketika itu Anda sedang memiliki uang. Maka, berilah bantuan kawan Anda. Jangan sampai, Anda  seperti rentenir yang memberikan pinjaman dengan ada bunganya. Karena, ada kalanya Anda harus menjadikan uang sebagi tujuan hidup, dan ada kalanya Anda harus memposisikan uang sebagai sarana untuk menjadikan diri kita sebagai seorang manusia (seorang yang humanis).

Pola pikir seperti itu, harus menjadi acuan utama bagi kita yang hidup di era modern ini. Sehingga, kita akan tetap merasa membutuhkan uang, dan selalu berpikir positif terhadap uang.


KEDUA: Uang Sebagai Penyemangat Hidup

Setelah pola pikir tentang uang sudah benar, maka langkah selanjutnya ialah kita harus bisa menjadikan uang sebagai salah satu penyemangat hidup. Karena dengan memiliki uang yang cukup, setidaknya ada tiga hal yang dapat kita lakukan dalam hidup kita.

Pertama, dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Karena, salah satu fungsi uang ialah sebagai alat transaksi. Sehingga, dengan kita memiliki uang yang cukup, kita dapat melakukan transaksi untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Mulai dari kebutuhan primer (kebutuhan pokok), skunder (kebutuhan pelangkap), dan kebutuhan teresier (kebutuhan penunjang atau tambahan).

Kedua, dapat menyimpan kekayaan dalam bentuk uang. Artinya, dengan memiliki uang, kita dapat mengkonversi kekayaan kita ke dalam bentuk uang. Sehingga, kita pun akan mudah membawa kemana-mana. Atau, untuk kemudahan uang tersebut dapat disimpan di lembaga perbankan.

Ketiga, dapat dijadikan sebagai alat berjaga-jaga di kemudian hari. Biasanya, uang yang dialokasikan untuk berjaga-jaga, akan diletakkan dalam bentuk tabungan dan investasi.

Untuk investasi, ada yang bersifat langsung, seperti investasi dalam bentuk usaha. Dan ada yang tidak bersifat langsung, seperti saham, reksadana, obligasi, dan lain sebagainya.

Maka dari itu, jadikanlah uang sebagai penyemangat hidup. Karena dengan menjadikan uang sebagai salah satu penyemangat hidup, kita akan menjadi manusia yang berkelimpahan rejeki. Dan, tiga fungsi dari uang tersebut, akan mampu kita lakukan, dan kita pun akan menjadi manusia yang memiliki tingkat keuangan yang sehat.

Kiranya, setelah membaca tulisan ini, semoga kita tak berpikir lagi, uang bukan segala-galanya. Akan tetapi, yang harus kita pikirkan adalah, segala-galanya pake’ uang. Sehingga, dengan mengedepankan cara berpikir seperti itu, kita akan menjadi manusia yang termotivasi untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya.

Setelah uang terkumpul, dapat kita gunakan untuk membiayai hidup kita dan keluarga kita. Kemudian, sebagian kita dermakan untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan.

Seru kan pastinya….!
Bynix Saya hanyalah blogger pemula yang ingin sukses didunia blogging

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel