Pendidikan Harus Diperjuangkan

Banyak orang yang belum sadar akan pentingnya pendidikan dalam hidup. Sehingga, mereka abaikan pendidikan, kemudian memalingkan pada aktivitas lainnya yang dianggap lebih penting.


Mungkin saja, keengganan mereka yang meninggalkan pendidikan, terjadi karena salah menafsirkan makna pendidikan itu sendiri. Seolah, pendidikan menurut mereka ialah, kegiatan yang dilembagakan mulai dari PAUD/TK hingga Perguruan Tinggi (S1, S2, dan S3).


Mengenal Esensi Pendidikan

Untuk mengetahui esensi pendidikan yang sebenarnya, marilah kita perbincangkan bersama-sama. Sehingga, kita memiliki pemahaman yang sama dan benar, mengenai pendidikan itu sendiri.

Seperti yang telah diuraikan di atas, banyak orang yang menafsirkan pendidikan ialah kegiatan yang dilembagakan. Jika pendidikan diartikan sebagai kegiatan yang dilembagakan, itu tidaklah benar 100%. Pendidikan yang dilembagakan, hanya bagian terkecil dari arti pendidikan itu sendiri.

Esensi pendidikan yang sebenarnya ialah, sebuah proses belajar panjang yang harus dilalui oleh manusia, semenjak lahir hingga akhir hayat. Atau, bisa juga, pendidikan ialah life-long education, yaitu pendidikan seumur hidup yang tak kenal waktu dan usia.

Maka dari itu, tugas kita bersama saat ini ialah, mengubah paradigma pendidikan, dari yang sifatnya dilembagakan menjadi life long edication. Sehingga, orang-orang tak lagi menganggap kegiatan pendidikan itu di sekolah formal. Di luar sekolah, juga bisa melakukan kegiatan pendidikan. Seperti membaca buku, mendongeng, mendengarkan berita, berselancar di internet, dan lain sebagainya.

Jadi, jika paradigma yang terbangun dalam benak kita, bahwa pendidikan ialah life long education (pendidikan seumur hidup), maka setiap kita tentu tidak akan meninggalkan kegiatan pendidikan itu sendiri. Salah satu kegiatan pendidikan yang harus mendarah daging, ialah kegiatan membaca dan belajar.

Membaca dan belajar merupakan kegiatan sharing of knowledge dan transfer of knowledge oleh penulis buku kepada pembaca. Sehingga dengan banyak belajar dan membaca, pikiran kita akan bisa terbuka. Kemudian, kita tidak akan picik dalam memandang setiap kejadian hidup. Dan kita pun, akan lebih optimis dalam menjalani kehidupan ini.

Bagi sebagian masyarakat, yang masih menganggap bahwa pendidikan itu, hanya pendidikan formal saja (di Sekolah atau Perguruan Tinggi), maka tak heranlah banyak anak-anak bangsa yang meninggalkan kegiatan pendidikan itu sendiri selepas pendidikan formal, yaitu belajar dan membaca.

Mereka tidak akan menyentuh buku dan mau belajar, setelah lulus SMA. Tak ada tuntutan ujian lagi di sekolah. Karena, UN (Ujian Nasional) sudah menjadi pamungkas dari kegiatan belajar. Makanya, setelah lulus sekolah, semua buku yang ada di rumah dikiloin, untuk ditukar dengan uang. Kalau tidak salah, per kilonya Rp 1.000 hingga Rp 1.500. Hafal amat Om…! Hehehe…!

Begitu juga bagi mereka yang mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi. Mereka tak akan mau belajar, dan bahkan menyentuh buku lagi, setelah gelar S-1 mereka dapatkan. Sehingga, tak heranlah banyak sarjana yang menganggur di negeri ini. Ya, mungkin salah satu penyebabnya, karena mereka tak mau belajar dan membaca. Dan menganggap, pendidikan hanya ada ketika dirinya masih aktif  menjadi mahasiswa.

Bukan hanya di tingkat mahasiswa S-1 lho, tingkat mahasiswa S-2 juga hampir sama. Dan mungkin juga, untuk mahasiswa S-3. Kegiatan membaca sangat minim. Sehingga, tak heranlah gelar yang mereka sandang, tak mencerminkan keilmuan yang dimiliki.

Mohon maaf bagi yang tersinggung ya…! Saya hanya mengingatkan diri pribadi, agar mau terus belajar dan membaca.

Nah, dari penjelasan di atas, dapatlah kita simpulkan bahwa pendidikan itu ada dua, yaitu pendidikan formal dan pendidikan informal. Keduanya, harus berjalan beriringan dalam hidup ini. Jangan sampai, kita meninggalkan salah satu dari keduanya. Dan kita harus memperjuangkan sekuat tenaga, untuk mendapatkan pendidikan yang layak dalam hidup ini.


Yang Harus Diperjuangkan Dalam Pendidikan

Bentuk perjuangan yang harus dilalui, umpamanya bagi mereka yang masih berada dalam tahap pendidikan formal, ya harus rajin belajar dan membaca buku-buku yang diajarkan di sekolah ataupun di Perguruan Tinggi. Kemudian, menjadikan kebiasaan belajar dan membaca, sebagai budaya hidup sehari-hari.

Jadikanlah, kegiatan belajar dan membaca sebagai sebuah budaya hidup yang sangat penting. Sehingga, belajar dan membaca, bukan dimaksudkan sebagai bentuk gugur kewajiban di sekolah. Dan setelah itu, ditinggalkan begitu saja.

Saya ingat betul salah satu nasehat guru saya, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep  Madura, Alm. K. H. Idris Djauhari (ya Allah semoga diampuni dosa-dosa beliau, dan ilmu yang diajarkan bermanfaat). Beliau selalu berpesan kepada santri-santrinya, ketika memasuki ujian, entah ujian mid semester, ujian semester, atau ujian lisan. Beliau selalu berpesan, bahwa “belajar itu bukan untuk ujian. Akan tetapi, ujian itu untuk belajar”.

Menurut beliau, dengan kita rajin mengikuti ujian di sekolah. Dan kemudian, menjadikan setiap ujian sebagai sarana untuk terus belajar dan mengembangkan diri, maka yakinlah kita akan mampu menghadapi ujian yang sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari. Karena, ujian yang sesungguhnya, ialah ujian yang ada dalam kehidupan sehari-hari.

Begitu juga dengan orang-orang yang sudah menyelesaikan pendidikan formal, baik di sekolah ataupun Perguruan Tinggi, jangan lupa untuk meluangkan waktu belajar dan membaca buku. Bagi yang tidak memiliki uang untuk membeli buku, bisa datang ke perpustakaan, gratis kok gak usah bayar.

Dan bagi mereka yang memiliki kecukupan rejeki, anggarkanlah pendapatan untuk membeli buku satu atau dua buku setiap bulan. Kalau bisa, setiap diri kita memiliki perpustakaan pribadi, yang berisi buku-buku yang dapat kita sentuh kapan pun kita memiliki waktu luang. Atau, kita memang meluangkan waktu yang kita miliki setiap hari, untuk menyentuh buku-buku yang ada di perpustakaan pribadi kita.

Berkenaan dengan membeli buku, saya punya cerita  yang bisa kita contoh bersama. Saya punya teman, namanya Herman, teman sewaktu di pesantren dan juga waktu kuliah S-1, dan hingga sekarang saya masih berkarib dengannya. Kalau dia sempat membaca blog ini, pasti akan senyam-senyum. Dan ini, merupakan true story yang tidak saya buat-buat.

Herman ini, akan selalu meluangkan pendapatannya untuk membeli buku. Pendapatan utama, diperolehnya dari kegiatan menulis. Entah menulis artikel di media massa, ataupun dari naskah buku-bukunya. Maklum, dia termasuk penulis yang cukup produktif.

Suatu hari, kalau tidak khilaf kala itu kami sedang duduk di semester 5, sekitar tahun 2012. Herman, mendapatkan honor dari menulis, kurang lebih Rp 1 juta. Perlu diingat, uang Rp 1 juta bagi kami yang orang rantau dan anak kosan cukup besar waktu itu lho..! Dan memang, waktu itu kami adalah mahasiswa dengan kantong yang pas-pasan, tapi sudah punya pendapatan coyyyyy….! Dari kegiatan menulis setiap bulannya. Karena, kami berdua adalah penulis.

Tiba-tiba, Herman membawa plastik. Di dalamnya berisi buku-buku yang masih utuh dengan segel beserta bandrol harga bukunya. Saya heran, kemudian saya tanyakan padanya.

“Ini buku baru semua?” tanya saya padanya cukup heran.

“Iya, buku baru semua,” jawabnya enteng tanpa beban.

“Banyak amat…! Kau belikan semua honor yang kau dapatkan,” tanya saya lagi sangat penasaran.

“Iya, saya belikan semuanya…!” ungkapnya tanpa beban hidup.

“Busyeeetttt….! Gimana, jika honor selanjutnya belum bisa dicairkan. Kau mau makan apa?” ungkap saya padanya dengan penuh tanda tanya.

“Ah…! Kalau masalah makan mah gampang. Saya lebih baik beli buku, dari pada uang cuman habis gak karuan. Buku ini investasi masa depan yang cukup baik Broo…!” begitulah cetusnya.

Jadi, teman saya ini, akan selalu membeli buku setiap bulan. Mau dirinya dalam keadaan memiliki uang lebih ataupun tidak. Karena baginya, membeli buku itu wajib. Sehingga, seiring berjalannya waktu, perpustakaan pribadi yang dicita-citakan akan terwujud.

Perlu diingat, saya bukan hendak menyuruh pembaca blog ini, menghabiskan pendapatan untuk membeli buku. Akan tetapi, setidaknya kita sisihkan pendapatan kita setiap bulan untuk membeli buku. Dan, buku-buku yang akan dibeli, sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing. Bisa buku motivasi, bisa buku berkenaan dengan profesi dan karir kita, bisa buku menambah skil, dan berbagai macam buku lainnya.

Ini bukan promosi karena saya ini penulis buku lho..! Suwerr dah…..! Ini dari lubuk hati saya yang paling dalam. Karena, saya ingin bersama-sama mencintai buku, dan mendapatkan iformasi yang banyak dari sebuah buku.


Penutup

Cukup sekian dulu ya…! Semoga, artikel ini akan menumbuhkan kesadaran pada diri kita masing-masing, bahwa pendidikan itu bukan hanya yang bersifat formal saja di Sekolah dan di Perguruan Tinggi. Akan tetapi, pendidikan itu ialah life long education. Sebuah proses yang tak ada ujungnya. Kecuali maut, baru kegiatan pendidikan itu usai…!

Selamat berjuang, dan semoga kita menjadi orang-orang yang terdidik hingga akhir hayat…!
Bynix Saya hanyalah blogger pemula yang ingin sukses didunia blogging

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel