Inovasi Marketing di Era Digital, Sebuah Keharusan

Marketing merupakan proses memasarkan produk atau jasa, dari produsen ke calon konsumen. Sehingga, calon konsumen berubah menjadi konsumen dari produk dan jasa yang dihasilkan. Ini merupakan pengertian yang cukup simpel menurut saya pribadi.


Inovasi Marketing di Era Digital, Sebuah Keharusan

Namun, jika mau sedikit akademik, dapat mengacu pada American Marketing Asotiation (AMA), yang mengartikan pemasaran sebagai suatu fungsi organisasi dan serangkaian proses untuk menciptakan, mengomunikasikan, dan memberikan nilai kepada pelanggan, dan untuk mengelola hubungan pelanggan dengan cara yang menguntungkan organisasi dan pemangku kepentingan.

kalau pun mau lebih merujuk kepada Mbah pemasaran dunia, yaitu Philip Kotler, beliau mengatakan bahwa pemasaran itu merupakan proses pemenuhan kebutuhan, agar sama-sama saling menguntungkan.

Nah, ingat ya…! Pemasaran itu, merupakan sebuah proses yang harus saling “MENGUNTUNGKAN” antara produsen dengan konsumen. Jangan sampai, hanya gara-gara mengejar keuntungan yang tak seberapa, akhirnya value-added (nilai tambah/nilai manfaat) yang seharusnya diterima konsumen, malah sengaja tidak ditunaikan.

Konsep yang saling menguntungkan tersebut, akhirnya mulai dikembangkan oleh beberapa produsen/perusahaan saat ini. Sehingga, lahirlah konsep inovasi dalam dunia marketing. Setidaknya, ada tiga inovasi yang mulai dikembangkan beberapa produsen/perusahaan untuk memasarkan produk atau jasanya.


Bersifat Edukasi

Marketing di era modern ini, bukan menjadi hal yang biasa-biasa saja. Akan tetapi, marketing memegang peranan yang cukup besar dalam pengembangan bisnis. Sehingga, tak heran jika banyak produsen/perusahaan mengeluarkan biaya besar hanya demi mengenalkan produk dan jasa yang dimiliki.

Dalam memperkenalkan produk atau jasa, saat ini produsen/perusahaan sudah mulai menyadari bahwa, konsumen semakin hari semakin cerdas dan memiliki banyak prefensi. Jika terlalu dipaksakan dalam memasarkan produk atau jasa, dengan sistem direct-selling, dor to dor, advertising, dll, maka konsumen akan merasa jenuh.

Bukan malah membuat calon konsumen semakin tertarik untuk mengkonsumsi produk atau jasa yang dihasilkan oleh produsen. Malahan, membuat calon konsumen semakin menjauhi produk dan jasa  yang dihasilkan.

Untuk menghindari hal tersebut, akhirnya beramai-ramailah perusahaan yang ada pada saat ini merubah konsep pemasaran yang seolah “MEMAKSAKAN”, dengan konsep “EDUKASI” terhadap suatu produk atau jasa.

Sebagai contoh, coba perhatikan iklan Perguruan Tinggi yang ada di Televisi. Kebanyakan, dalam tayangan visual, Perguruan Tinggi memberikan edukasi bahwa pendidikan itu sangatlah penting untuk menunjang karir di masa depan. Sehingga, lahir asumsi, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka akan semakin kinclong karirnya. Dan sebelum menutup iklan, biasanya akan ada kata, atau tampilan visual, yang kurang lebih mengajak untuk masuk ke Perguruan Tinggi tersebut.

Contoh yang lebih ril dan gampang, perhatikan iklan yang disuguhkan oleh Pegadaian, terutama di website resmi (pegadaian.co.id), ataupun di blog resminya (sahabatpegadaian.com). Jika kita perhatikan secara seksama, nampak pegadaian sedang memasarkan emas kepada masyarakat dengan cara edukasi.

Perlu diketahui, Pegadaian tidak terlalu fulgar dalam memasarkan emas. Akan tetapi, melalui jalan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya investasi emas. Edukasi tersebut, melalui tulisan-tulisan yang mengulas tentang likuiditas yang dimiliki emas. Serta keuntungan yang akan diberikan oleh emas. Dan berbagai macam kelebihan emas lainnya.

Secara tidak langsung, Pegadaian coba masuk ke dalam alam bawah sadar masyarakat, agar mau membeli emas di Pegadaian. Melalui edukasi yang sengaja ditampilkan dalam website ataupun blog resmi. Semakin banyak melakukan edukasi, maka semakin meningkat produk atau jasa yang dihasilkan, dan terserap oleh masyarakat.

Itu hanya satu dua contoh dari iklan yang bersifat edukasi, yaitu Perguruan Tinggi dan Pegadaian, dan masih banyak contoh lainnya.


Menggunakan Media Blog

Jika kita perhatikan lebih seksama, banyak perusahaan yang mulai menggunakan media blog, untuk berinteraksi dengan masyarakat. Yang salah satu tujuan, hendak mengkomunikasikan produk dan jasa yang dihasilkan. Karena, dengan menggunakan media blog, perusahaan dapat meng-edukasi masyarakat dengan baik dan benar.

Yang menjadi pertanyaan kita bersama, mengapa perusahaan membuat blog, padahal perusahaan sudah memiliki website atau situs resmi yang menjelaskan produk atau jasa yang diberikan?

Tentu, jawabannya sangat sederhana,  karena melalui media blog, perusahaan dapat berinteraksi dan melakukan edukasi kepada masyarakat. Dengan harapan, secara tidak langsung, masyarakat akan mau membeli produk atau jasa yang dihasilkan. Setelah mengetahui manfaat dari produk atau jasa yang ditawarkan tersebut.

Dari pengamatan saya selama berselancar di dunia maya (internet), sudah mulai bermunculan perusahaan yang menggunakan media blog, disamping website resmi untuk memasarkan produk dan jasa yang dihasilkan. Beberapa perusahaan tersebut, yaitu Pegadaian. Di mana, selain Pegadaian memiliki website resmi yang beralamat di pegadaian.co.id, memiliki juga blog resmi yang beralamat di sahabatpegadaian.com.

Selain pegadaian, ada juga yang beberapa minggu ini meluncurkan blog resmi, yaitu Bank BTPN. Selain memiliki website resmi yang beralamat btpn.com, juga memiliki blog yang beralamat di jenius.com.

Dua contoh perusahaan tersebut, seolah memberikan sinyal bahwa website yang dimiliki oleh perusahaan, dirasa kurang “NENDANG” dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Karena, dalam website, perusahaan tak dapat memberikan edukasi secara bebas. Dan hanya bisa memberikan informasi produk dan jasa yang dimiliki.

Semantara dalam blog resmi, perusahaan dapat memberika edukasi yang terbaik kepada masyarakat tentang produk ataupun jasa yang dihasilkan. Dan kemudian, masyarakat ataupun pembaca blog, akan digiring untuk meng-KLIK website resmi perusahaan, dengan cara “BACKLING”.

Setelah adanya backling, pembaca secara tidak sadar telah digiring untuk mengetahui produk dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan yang dimaksud. Dengan tujuan, setelah mengetahui, pembaca mau membeli produk dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan. Sehingga, perusahaan secara perlahan akan mengubah calon konsumen menjadi konsumen loyal, dengan adanya edukasi melalui media blog.


Masarin di-Blog Pribadi

Ingat, jaman telah mengubah pikiran perusahaan/produsen, yang sebelumnya pelit untuk berbagi kepada yang lain, dan kini telah membuat sebagian perusahaan berpikir ulang. Kalau terlalu pelit karena efisiensi, maka akan ditinggalkan oleh konsumennya. Karena, saat ini adalah masa ekonomi yang bersifat “SHARING-PROFIT”.

Artinya, perusahaan harus mau berbagi kepada masyarakat, baik yang bersifat CSR (Corporate Social Responsibilty) ataupun yang bersifat marketing (management fee). Nah, saya hanya akan membahas profit-sharing dalam hal marketing di tulisan ini.

Hal yang sedikit menggelitik menurut saya pribadi, banyak perusahaan yang menggunakan jasa pemasaran melalui blog pribadi. Mungkin, dengan beberapa pertimbangan. Sehingga perusahaan besar mau memasarkan produk atau jasanya di sebuah blog pribadi.

Menurut hemat saya, yang menjadi salah satu pertimbangan perusahaan, disebabkan pembaca yang masuk atau meng-KLIK blog pribadi tersebut cukup banyak. Salah satu alasannya, mungkin karena konten yang disediakan di blog tersebut cukup baik bila dibandingkan dengan blog lainnya. Sehingga, masyarakat mau meng-KLIK blog tersebut.

Nah, kesempatan tersebut kemudian dipergunakan oleh perusahaan untuk beriklan. Mereka memiliki asumsi persentase probabilitas dari pengunjung, yang akan menjadi konsumen potensial.

Sebagai contoh, untuk menghitung probabilitas (kemungkinan) orang mau mempergunakan produk ataupun jasa bila perusahaan beriklan di blog pribadi. Umpamanya, PT Angin Ribut tertarik untuk beriklan di blog milik Agus. Dengan alasan banyak pengunjung yang meng-KLIK blog tersebut, yaitu berkisar 1500 pengunjung.

Lalu, PT Angin Ribut membuat probabilitas (kemungkinan), pembaca potensial bisa menjadi konsumen. Anggap saja, probabilitas (kemungkinan)-nya ialah 1% dari 1500 pengunjung, maka dalam sebulan akan diperoleh hitung-hitungan seperti ini: 1500 pengunjung X 1% probabilitas x 30 hari (1 bulan) = 450 orang. Jadi, probabilitas (kemungkinan) PT Angin Ribut, akan mendapatkan konsumen baru sekitar 450 orang.

Cukup dahsyat kan….!

Saya akan mencontohkan salah satu blog pribadi yang memberikan display iklan bagi perusahaan, yaitu blog yang beralamat di dosengalau.com. Di blog tersebut, secara terang-terangan diberi keterangan bagi pembaca ataupun perusahana yang hendak beriklan. Beberapa iklan yang ditawarkan, antara lain: iklan konten atau tulisan dengan dasar user experiences, blog content release, pemasangan banner pada halaman blog, sampai juga sponsor atau dukungan terhadap pengelola blog.

Nah, saya pun tak mau kalah, hehehehhe….! Melalui tulisan ini juga, saya akan menawarkan pembaca ataupun perusahaan yang mau memasang iklan di blog pribadi ini, dipersilahkan dengan sepenuh hati. Biaya iklan terjangkau kok, hehehhe…!

Walaupun blog ini tergolong baru, jumlah pembacanya Alhamdulillah cukup signifikan (Soft-Selling dikit, hehhee) semenjak di-launching. Jika memang berminat, silahkan hubungi langsung blog ini ya….!

Kembali lagi ke tema utama, bagi perusahaan/produsen yang tak mau mengikuti trend marketing, dan masih menggunakan pola-pola konvensional dalam memasarkan produk atau jasa, maka siapkanlah model marketing seperti ini. Sehingga, konsumen loyal yang Anda miliki akan tetap terjaga.

Bynix Saya hanyalah blogger pemula yang ingin sukses didunia blogging

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel