Harga Mahal Hanya Soal Persepsi, Kuncinya 3 Hal Supaya Terjual

Berbicara masalah harga, tak akan terlepas dari dua hal. Yaitu mahal dan murah. Jika mahal, akan sulit terjual. Dan jika murah, pasti akan cepat terjual.


https://www.why-com.com/2019/11/harga-mahal-hanya-soal-persepsi-kuncinya-3-hal-supaya-terjual.html

Masa sih begitu?

Kalau memang mahal selalu identik dengan sulit laku terjual. Mengapa barang-barang mewah yang ada di mall dan pusat perbelanjaan itu laris-manis.

Jika tidak percaya, coba saja cek harga. Kemudian bandingkan dengan yang ada di luar mall dan pusat perbelanjaan. Seperti kopi yang dijual di maal dan yang dijual di luar mall, pakaian, hingga yang lainnya.

Begitu juga sebaliknya, kalau memang murah selalu identik dengan cepat terjual atau larasi. Mengapa pedagang asongan yang sering berkeliling ke gang-gang di perkotaan itu sepertinya sulit laku dagangannya.

Bahkan terkadang kita iba padanya. Karena menyaksikan dagangannya tak laku terjual. Apalagi kala menyaksikan bulir keringat di keningnya yang menyembul sebiji jagung. Duh tambah iba rasanya….!

Jika tidak percaya, coba sesekali membeli dagangan di tukang asongan. Seperti perabotan rumah tangga (sapu, tempat sampah, piring, gelas, dll), pakaian dalem, kaos, dll.

Bandingkan harganya dengan yang ada di pasar, pasti harganya lebih murah. Tapi mengapa, rasa-rasanya mereka kesulitan mencari konsumen yang mau membeli barang dagangannya.

Yang paling nyesek, sudah murah malah ditawar lagi.

Hadehhh….! Kayak yang nawar itu, gak punya perikemanusiaan.

Maka dari  itu, mari kita samakan persepsi. Mengenenai mahal dan murah.


Memahami Makna Murah dan Mahal

Mahal sebenarnya hanyalah persepsi (pandangan) yang dimiliki oleh masing-masing orang.

Sebagai contoh, ketika kita memiliki uang sebesar Rp 10 juta di kantong. Kebetulan kita lewat di sebuah pusat perbelanjaan. Dan menyaksikan jam tangan import dengan harga Rp 3,5 juta karena adanya diskon.

Anggap saja, harga normalnya Rp 5 juta. Diskon Rp 1,5 juta akan dianggap murah oleh kita.

Contoh lain, di kantong kita ada uang Rp 10 juta. Suatu hari ada sebuah yayasan  panti asuhan datang membawa proposal. Isinya meminta bantuan uang untuk pendirian asrama.

Gak usah ampek mengeluarkan Rp 3,5 juta. Rasa-rasanya, mau mengeluarkan uang Rp 100 hingga Rp 200 ribu berat banget. Padahal, di kantong ada Rp 10 juta.

Nah, contoh pertama adalah persepsi kita yang terbangun dari murah. Dan kedua, contoh persepsi yang terbangun mahal.

Lantas, kalau kita jualan barang-barang mahal dan tak laku terjual. Berarti bukan karena mahalnya barang yang kita jual. Akan tetapi, ada hal lain yang melatar belakanginya.

Begitu juga sebaliknya, berjualan barang murah. Juga tetap tak laku, berarti penyebab lain.

Oleh karena itu, yuk kita pelajari tiga hal supaya dengan mudah dan cepat dagangan kita terjual.


PERTAMA: Sisi Produk

Sebelum kita memasarkan produk atau jasa, ada baiknya kita memeriksa produk atau jasa yang akan kita tawarkan terlebih dahulu.

Mulai dari sisi kualitas, komposisi, kelebihan, kekurangan, manfaat, hingga sisi negatif dari barang dan jasa yang kita miliki.

Jangan sampai terbersit dalam diri kita, hendak menyembunyikan sedikit pun hal, dari barang dan jasa yang kita tawarkan. Semua informasi yang ada, harus kita sampaikan dengan jelas dan lugas ke calon konsumen.

Ini penting, karena sedikit saja kita salah dalam memberikan informasi dari produk atau jasa yang kita tawarkan. Pasti akan membuat dagangan kita sulit untuk terjual ke pasar. Karena konsumen akan merasa ditipu.

Karena pada dasarnya, jika produk atau jasa yang kita tawarkan memang berkualitas. Pasti akan terjual di pasar.

Contoh Dari Sisi Produk

Di dekat tempat tinggal saya, ada penjual sop buah, dengan bandrol harga Rp 12 ribu per porsi. Sementara pesaingnya di sekitar situ, menjual sebesar Rp 10 ribu per porsi.

Bayangkan saja, bedanya dengan para pesaing yaitu sebesar Rp 2 ribu. Tapi yang mengherankan. Walaupun lebih mahal Rp 2 ribu, konsumen yang ngantri itu bejibun hooo….!

Serius ini brohh…! Saya gak bercerita fiktif. Karena gak ada gunanya juga saya bercerita fiktif di blog ini. hehehe…!

Memang secara rasa, produk sop buah yang dijualnya itu, berbeda dengan yang lainnya. Rasanya benar-benar enak.

Nah, dari true story ini, saya hendak menekankan. Jika produk yang kita jual memang berkualitas. Maka, kita memberikan harga produk lebih mahal sedikit dari pesaing tak apa-apa.

Karena bagi konsumen, lebih mahal sedikit harganya tak menjadi masalah. Yang penting, produk yang ditawarkan memang sesuai dengan kualitas yang diinginkan oleh konsumen.


KEDUA: Sisi Pasar

Dalam istilah produksi, ada namanya pricing. Gampangnya, pricing ialah asal-usul kita memberikan harga dengan nominal sekian.

Untuk memberikan harga, biasanya cukup gampang. Modal ditambah biaya, ditambah lagi dengan keuntungan (modal + biaya + untung = harga).

Sayangnya, harga akhir masih belum mencerminkan keinginan kebanyakan orang. Sehingga, kebanyakan orang masih merasa mahal dengan harga yang kita tawarkan.

Nah, karena harga tak mencerminkan keinginan semua orang. Berarti, barang yang kita tawarkan, jangan ditawarkan kepada semua orang. Tawarkan saja, pada orang-orang yang punya uang cukup. Untuk membeli baran dagangan kita.

Menawarkan kepada orang yang tepat inilah yang dikatakan pasar. Karena secara pengertian, pasar ialah tempat bertemunya pedagang dan pembeli.

Tentu, pedagang yang dimaksud adalah pedagang yang memiliki barang yang mencermikan kualitas barang tersebut. Dan pembeli, adalah pembeli yang memiliki cukup uang untuk membelinya.

Ketika penjual barang tertentu, bertemu dengan pembeli yang memiliki cukup uang. Maka akan terjadilah penjualan.

Berapapun harga yang ditawarkan, akan tetap terjual. Tentu, harga yang diberikan pada barang tersebut. Mencerminkan kualitas barang tersebut.

Contoh Dari Sisi Pasar

Seorang sales mobil akan memasarkan dagangannya di mall dan perumahan mewah. Mall dan perumahan mewah, mencerminkan mereka memiliki uang. Atau dalam istilah ekonomi, mencerminkan daya beli mereka.

Dan, jika dipasarkan di pasar tradisional ataupun di pinggir jalan, rasa-rasanya akan sulit untuk terjual. Maka, cara yang tepat adalah mencari pasar (orang) yang memiliki daya beli cukup, agar cepat terjual.

Contoh lain, saya memberikan jasa penulisan biografi. Masalah kualitas, jangan khawatir, Insya-Allah sudah professional. Maaf bukan nyombong, tapi soft-selling dikit, hehehe….!

Harga yang saya patok untuk satu jasa penulisan biografi itu lumayan. Pemberian harga tersebut, saya dasarkan pada tingkat pengalaman menulis bigorafi dan buku, kualitas tulisan, dan profesionalisme, serta lama saya menggeluti dunia tulis-menulis.

Maka dari itu, karena harga yang ditawarkan itu lumayan, saya tidak menawarkan kepada sembarang orang. Akan tetapi, saya taarkan pada pasar potensial.

Pasar potensial tersebut, seperti, pebisnis, tokoh masyarakat, professional, dan orang-orang yang saya prediksi di kantongnya cukup membeli jasa yang saya tawarkan.

Nah, ini sekadar contoh, bagaimana kita mampu membidik pasar yang tepat. Kemudian, barang atau jasa yang kita tawarkan bisa terjual.


KETIGA: Sisi Pemasaran

Pemasaran merupakan proses menyeluruh dari suatu bisnis, mulai dari perencanaan, penentuan harga, promosi dan distribusi barang dan jasa ke konsumen potensial.

Jadi, pemasaran ialah sebuah kegiatan yang terencana, mulai memproduksi barang dan jasa, hingga mendistribusikan, dan kemudian dikonsumsi oleh konsumen.

Nah, sisi pemasaran ini penting, agar barang dan jasa yang kita hasilkan, bisa cepat laku. Karena, salah cara memasarkan barang dan jasa yang kita miliki, bisa-bisa tak terjual di pasar.

Pemasaran itu ada dua. Yaitu sumber bukan pemasaran. Dan sumber pemasaran.

Sumber bukan pamasaran itu sendiri, ada yang berkaitan dengan proses pemasaran. Meliputi dari, produk, harga, promosi, dan distribusi.

Sumber pemasaran, ialah sumber yang berkaitan dengan pemasaran. Meliputi produk, harga, promosi, dan distribusi. Untuk lengkapnya, baca artikel terkait di bawah ini ya…!

Contoh Dari Sisi Pemasaran

Agus seorang pengusaha percetakan. Metode pemasaran jasa percetakannya, menggunakan metode word of mout, atau pemasaran dari mulut ke mulut.

Awalnya, strategi ini dianggap sederhana dan tradisional. Namun, seiring berkembangnya klien yang dilayani. Ahirnya metode pemasaran ini dianggap paling baik, dan juga murah meriah.

Hingga kini, dirinya menggunakan metode word of mout untuk memasarkan jasa percetakan yang dimilikinya.


Sebuah Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, jika kita masih ragu atas produk dan jasa yang kita miliki, apakah harganya mahal atau tidak. Berarti kita harus mempelajari tiga hal, yaitu sisi produksi, sisi pasar, dan sisi pemasaran.

Tiga hal tersebut, sangat penting untuk kita renungkan kembali. Sehingga, tak ada kata mahal untuk produk dan jasa yang kita hasilkan. Karena, kita sudah sepakat, bahwa mahal hanyalah soal persepsi saja.

Harga mahal, akan menjadi murah, jika kita tepat menerapkan  tiga hal. Mulai dari sisi produksi, pasar, dan sisi pemasaran.
Bynix Saya hanyalah blogger pemula yang ingin sukses didunia blogging

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel