Kisah Nabi Musa Alaihis Salam, Sang Pembelah Lautan

Sang pembelah lautan



KELAHIRAN


Sebelum Musa lahir, seluruh anggota keluarga Ya'qub tinggal sebagai masyarakat pendatang sejak masa nabi Yusuf berkuasa di negeri Mesir. Selama masa kekuasaan ini pula, Bani Israel dilimpahi banyak kemudahan hidup oleh nabi Yusuf. Akan tetapi keadaan mulai berubah sepeninggal Yusuf, oleh sebab raja yang menggantikan Yusuf tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman hidup dengan bangsa Bani Israel. Bangsa ini diperbudak oleh Mesir lantaran Fir'aun pada zaman itu merupakan raja yang zalim serta memecah belah rakyatnya melalui tindakan menindas kalangan yang dipandang lemah, bahkan membunuh anak-anak laki kalangan itu pula.

Tatkala Fir'aun mendapati sebuah mimpi yang mengguncangkan; panglima serta ahli tafsir mimpi bernama Haman menafsirkan mimpi tersebut sebagai pertanda buruk bagi kekuasaan Fir'aun; bahwa akan ada seorang anak laki-laki dari Bani Israel yang kelak menjadi seorang laki-laki gagah perkasa yang perkataannya sanggup mengguncang seisi bumi bahkan sanggup mencapai langit ketujuh; serta kelak memimpin golongan pengikutnya melawan kekuasaan Mesir lalu ia membawa berbagai kehancuran hebat di negeri Mesir; juga para pengikut orang tersebut akan mengangkut harta kekayaan yang berlimpah, dengan dibantu kekuatan dahsyat milik Musuh bangsa Mesir yang kemudian menumpas seluruh kaum pemuka bangsa Mesir. Fir'aun beserta seluruh pemuka kaumnya merasa ketakutan bahwa penafsiran mimpi itu benar-benar menjadi nyata. Pada saat bersamaan, jumlah lelaki di Bani Israel bertambah pesat sehingga para pengikut Fir'aun tidak bisa memperkirakan siapakah anak yang diramalkan itu. Maka diadakan sebuah perintah keji di Mesir bahwa seluruh anak laki-laki yang baru lahir harus dibunuh, sedangkan seluruh anak perempuan yang baru lahir boleh dibiarkan hidup.


Namun terdapat seorang bangsawan di istana Fir'aun yang menyarankan supaya tidak berupaya melawan ketetapan tersebut melainkan tunduk menjadi pengikut orang Bani Israel tersebut, agar seisi istana Fir'aun tidak turut dilenyapkan. Walaupun demikian, Fir'aun justru berlaku sombong serta sewenang-wenang mendakwakan diri sebagai dewa atas bangsa Mesir seraya menyatakan: "Haruskah dewa sehebat diriku tunduk berpasrah terhadap seorang manusia dari kalangan yang diperbudak oleh kita sendiri?" akibat kesombongan ini, Fir'aun membujuk para pengikutnya melaksanakan perintah keji itu.


Mendengar kabar tentang perintah keji Fir'aun, Imran merasa sangat gelisah tentang keselamatan anak yang dikandung Yukhabad, istrinya. Kedua anak Imran; Harun dan Miryam, memberi tanggapan tentang kejadian ini; Miryam sebagai seorang nabi wanita, mendapati pertanda nubuat bahwa seorang anak laki-laki akan dilahirkan ibunya dan anak itu akan mengalami kejadian hebat dalam perairan, sehingga Miryam menyarankan supaya anak tersebut diletakkan ke sebuah perairan atau sungai oleh sebab Miryam meyakini akan ada keajaiban Allah yang akan menyelamatkan anak itu menghadapi air. Akan tetapi Imran merasa khawatir bahwa nubuat yang disampaikan oleh putrinya itu tidak terwujud. Harun, yang juga merupakan seorang nabi, menyampaikan saran supaya sang ibu ditempatkan di tempat yang aman, supaya anak tersebut dapat dilahirkan dalam keadaan tenang sementara seluruh anggota keluarga yang lain berpuasa dan berdoa secara bersungguh-sungguh demi keselamatan anak tersebut kemudian mereka harus berpasrah menyerahkan nasib anak tersebut kepada Allah, oleh sebab Harun meyakini bahwa Allah sanggup menghadirkan sesosok malaikat yang selalu menyertai anak tersebut supaya kembali di tengah-tengah mereka dalam keadaan selamat. Imran merasa tentram ketika mendengar ucapan bijaksana Harun. Setelah itu, Imran menempatkan Yukhabad bersama Miryam di sebuah gua supaya tetap berlindung hingga hari bersalin.


Setelah Yukhabad melahirkan seorang anak laki-laki; tepat sebagaimana pertanda yang telah diperoleh Miryam, ia merasa sangat bahagia sekaligus tak tega apabila harus menyerahkan putranya kepada kaum Fir'aun. Miryam merasa bergembira bahwa pertanda nubuat yang diperoleh merupakan kebenaran lalu Miryam bersegera memberitahu ayahnya dan Harun, supaya berdoa demi keselamatan anak laki-laki ini. Sementara itu, Yukhabad berada dalam kegelisahan antara menyerahkan sang putra kepada pemuka kaum Fir'aun atau menuruti anjuran Miryam untuk menempatkan sang anak dalam perairan, Yukhabad berdoa seraya menangis untuk menentukan nasib anaknya. Maka Allah mewahyukan kepada Yukhabad, supaya menenangkan diri lalu meletakkan anak tersebut ke dalam sebuah tabut kemudian menempatkan tabut itu menuju sebuah sungai seraya mempercayakan nasib anak tersebut kepada Yang Maha Melindungi. Yukhabad menempatkan sang anak dalam sebuah tabut yang ia temukan lalu melepas tabut itu seraya berdoa: "Semoga Allah memperdengarkan FirmanNya kepada dirimu, wahai putraku, sebagaimana Dia menyampaikan penentraman untuk ibumu. Semoga Allah mendengar perkataanmu wahai putraku, kiranya kelak engkau menyampaikan penentraman untuk Dia; sehingga engkau berkenan untuk Dia; dan semoga kelak engkau kembali kepada keluargamu dalam keadaan selamat..."


Yukhabad mengakui bukti kebenaran pertanda nubuat Miryam lalu menyuruh gadis itu mengikuti kemana tabut akan menepi. Miryam pun mendapati dari kejauhan bahwa istri Fir'aun sedang menarik tubuh adiknya dari perairan seraya wanita itu berkata "Musa, Musa." Miryam menduga hal ini merupakan pertanda buruk sehingga ia khawatir tentang keselamatan Musa. Miryam bersegera mendekat ke tengah kerumunan wanita yang hendak menyusui Musa, supaya memastikan apa yang akan terjadi pada sang adik. Tatkala Musa tidak mau menerima penyusuan dari siapapun; Miryam menyadari bahwa hal ini merupakan cara Allah untuk mengembalikan Musa ke ibu kandungnya, kemudian Miryam menawarkan bantuan supaya menghadirkan seorang wanita yang sanggup menyusui Musa. Ketika Yukhabad dipertemukan kembali dengan anaknya, perasaan sang ibu menjadi lega dan bersyukur bahwa Allah telah memenuhi janji tentang Musa; sehingga Yukhabad dapat mengasuh Musa, putra kandungnya.


KEHIDUPAN DI ISTANA MESIR

Setelah beberapa waktu, Musa dijadikan sebagai anak angkat oleh istri Fir'aun serta Musa bergelar seorang pangeran negeri Mesir. Ia belajar di istana Mesir untuk mewarisi Ilmu-Ilmu khusus beserta Hikmah-Hikmah berharga yang ditinggalkan Nabi Yusuf, salah seorang putra Nabi Ya'qub, yang sebelumnya menjadi penguasa di negeri Mesir. Musa secara mudah menyerap berbagai Ilmu yang dikhususkan bagi hamba-hamba pilihan Allah. Musa tidak seperti para pemuka kaum Fir'aun yang tidak mengimani Allah sehingga kaum pemuka Fir'aun mengalami kesulitan untuk memahami peninggalan berharga ini. Mewarisi Hikmah-Hikmah Yusuf, sosok Musa yang masih muda memiliki kebijaksanaan mengungguli kaum tetua di Mesir.

Seisi istana Fir'aun merasa heran terhadap Musa yang sanggup menyingkapkan berbagai perkara rumit sebagaimana kemampuan istimewa nabi Yusuf, sehingga Fir'aun mulai menduga bahwa Musa merupakan anak laki-laki yang pernah diramalkan. Akan tetapi salah seorang pemuka dalam kaum Fir'aun menyatakan bahwa perlu ada pembuktian tentang kebenaran dugaan itu sebab anak yang diramalkan adalah seorang anak yang memiliki suara yang dapat mengguncangkan bumi bahkan mencapai langit ketujuh. Pemuka itu menyuruh Musa menyerukan perkataan bijaksana yang sanggup mengguncang bumi.


Tatkala Musa menyerukan ucapan, kaum yang tidak beriman itu tidak sanggup memahami ataupun menjawab penjelasan Musa; dan mereka menganggap Musa sebagai orang aneh yang ucapannya tidak lancar. Musa tidak lagi dihadirkan di tengah-tengah para pemuka kaum Fir'aun sebab merasa malu apabila Fir'aun yang telah mengaku dewa kemudian dipimpin oleh Musa, berbeda dengan Raja Mesir terdahulu yang bersedia dipimpin oleh Yusuf.


MELARIKAN DIRI DARI NEGERI MESIR

Sebagai seorang yang berkedudukan di negeri Mesir, Musa berhak pergi kemanapun ia kehendaki di wilayah Mesir, termasuk ketika Musa mengunjungi wilayah Mesir yang ditempati Bani Israel. Ia terkejut mendapati Bani Israel diperlakukan secara sewenang-wenang di negeri Mesir. Tatkala mendapati seorang Mesir memukul seorang dari kalangan Bani Israel, Musa segera mendekat dan mempertanyakan tindakan orang Mesir itu. Orang mesir menjawab bahwa seluruh Bani Israel adalah kaum budak sehingga boleh diperlakukan sekehendak hati; seketika Musa membantah dengan menyatakan bahwa Bani Israel adalah golongan pewaris hamba-hamba pilihan Allah. Lalu orang Mesir itu menertawakan Musa seraya menantang sebuah bukti kebenaran hukuman Allah akibat pemukulan kepada seorang hamba Allah, jika benar bahwa Bani Israel memang golongan hamba Allah. Musa yang dipenuhi amarah menyatakan bahwa Allah akan membalaskan penindasan terhadap Bani Israel melalui tangannya. Sebagai balasan setimpal akibat pemukulan terhadap seorang dari kalangannya, Musa memukul orang Mesir; yang tanpa diduga menyebabkan kematian orang Mesir tersebut.

Musa merasa terkejut melihat hal ini karena ia telah memukul seseorang walaupun tidak memiliki niat membunuh orang itu. Ia menguburkan orang Mesir itu lalu berlari sambil memohon pengampunan serta memohon perlindungan kepada Allah terhadap persoalan ini. Keesokan harinya Musa kembali mendapati dua orang berkelahi; keduanya sama-sama berasal dari Bani Israel. Musa menyalahkan kedua orang itu, namun salah seorang dari keduanya menyatakan telah mengetahui tindakan Musa sehari sebelumnya, Musa pun merasa cemas dan berusaha mencari perlindungan. Tatkala seisi Istana Mesir mendengar kabar ini, mereka memperdebatkan tentang hukuman untuk Musa dalam beberapa waktu sehingga Allah menyelamatkan Musa menghadapi persoalan ini. Sewaktu ketetapan terhadap Musa telah diputuskan; salah seorang dari kalangan Musa yang mendengar keputusan ini segera berlari menjumpai Musa supaya dapat meluputkan diri terhadap hukuman kaum Fir'aun.


Musa berdoa seraya memohon perlindungan terhadap kaum Fir'aun dalam kepergiannya. Tatkala ia sampai di negeri Madyan, Musa mendapati dua orang perempuan sedang menggembalakan ternak. Ketika mengetahui bahwa mereka berdua sedang menunggu untuk memberi minum ternak, Musa membukakan sebuah sumur air sehingga ternak itu dapat minum. Tatkala Musa merasa letih akibat perjalanan meninggalkan Mesir, ia berdoa memohon pertolongan Allah. Tak lama kemudian Musa mendapati seorang perempuan yang telah ia bantu; perempuan itu mendekat dan bertanya tentang diri Musa, Musa menyatakan bahwa ia datang dari Mesir, kemudian Musa diundang ke rumah ayah perempuan itu yakni Yitro; sebab sang ayah hendak memberi hadiah kepada orang yang membantu menggembalakan ternaknya.


Tatkala Musa sampai di rumah sang ayah dari perempuan itu, Musa memperkenalkan diri dan menceritakan permasalahan yang dihadapinya. Yitro menenangkan Musa seraya berkata "Jangan khawatir sebab kamu telah selamat menghadapi orang-orang zalim itu." Mendapati kekuatan tubuh Musa dan pribadi yang terpercaya untuk menggembakan ternak; perempuan itu menyarankan kepada sang ayah supaya menjadikan Musa sebagai penggembala yang bekerja untuk keluarga mereka. Yitro menyadari pula bahwa perempuan-perempuan tak seharusnya bekerja sebagai penggembala; maka Yitro berencana memberikan salah seorang putrinya untuk Musa, dengan syarat bekerja menggembalakan ternak selama delapan tahun, Yitro mengizinkan apabila Musa hendak menggenapi masa bekerja menjadi sepuluh tahun. Musa bersedia menyanggupi persyaratan ini, dan ia berjanji kepada Yitro; kemudian Musa dinikahkan dengan anak perempuan Yitro. Selama tinggal di negeri Madyan, Musa memperoleh dua putra.


PENGUTUSAN KE NEGERI MESIR

Panggilan Ilahi kepada Musa

Tatkala telah menyelesaikan persyaratan yang disepakati dengan Yitro; Musa bersama keluarganya berangkat meninggalkan negeri Madyan. Pada sebuah malam, Musa berjalan sambil membawa sebuah tongkat lalu ia mendapati sebuah perapian di lereng Gunung Sinai, sedangkan anggota keluarga yang lain tidak mendapati apapun di lereng gunung itu. Musa meminta keluarganya berhenti sejenak dalam perjalanan supaya ia dapat memastikan api apakah itu ataupun supaya ia dapat mengambil sesuluh api untuk penghangat tubuh. Ketika Musa mencapai lereng itu, ia mendapati suara yang memanggil: 


"Wahai Musa, sesungguhnya Akulah Tuhanmu Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Bahwa telah diberkahi orang-orang yang berada di dekat api itu, maupun yang berada di sekitarnya; maka hendaklah kamu lepaskan kedua terompahmu itu; sebab kamu berada di sebuah tempat yang kudus, Thuwa, dan Akulah yang memilih dirimu untuk DiriKu; maka hendaklah kamu memperhatikan hal-hal yang akan diwahyukan: Bahwasanya Akulah Allah, Tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikan sembahyang untuk mengingat Aku. Sesungguhnya Hari Kiamat itu pasti akan terlaksana; Aku merahasiakan itu supaya tiap-tiap diri dibalas sesuai yang ia usahakan; maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan mengenai perkara ini oleh orang yang tidak beriman maupun oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya sendiri, yang dapat menyebabkan dirimu menjadi celaka."
Tatkala Musa tidak berani mendekat, Allah berfirman kepada Musa; "Apakah itu yang di tangan kananmu, wahai Musa?" Musa berkata: "Ini adalah tongkatku, aku bersandar padanya, dan aku menggugurkan dedaunan mempergunakan alat itu supaya dapat memberi makan ternakku, dan ada lagi kegunaan yang lain padanya." Allah berfirman: "Lemparkan itu, wahai Musa!" tatkala tongkat itu dilemparkan, tiba-tiba benda itu menjelma sebagai seekor ular yang merayap secara gesit, seketika Musa berbalik menjauh, Allah berfirman: "Peganglah itu dan jangan takut; sebab kamu termasuk orang-orang yang terlindungi, bahwasanya orang yang dijadikan Utusan tidak takut di hadapan Aku; namun orang yang berlaku zalim kemudian kezaliman itu diganti dengan kebaikan, ketahuilah bahwa Akulah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." maka Allah akan mengembalikan ular itu menjadi keadaan semula. Allah memerintahkan Musa mendekapkan tangan ke dada niscaya tangan Musa tampak putih cemerlang tanpa celah, sebagai dua mukjizat dari Allah, supaya Allah perlihatkan melalui diri Musa sebagian Bukti Kekuasaan yang luar biasa.

Allah berfirman kepada Musa:

Menghadaplah kepada Firaun; sebab ia telah bertindak sewenang-wenang, dan ucapkan: "Bersediakah kamu untuk memurnikan diri supaya kamu kubimbing menuju Jalan Tuhanmu agar kamu takut terhadap Dia?" serta menghadaplah kepada kaum yang berlaku sewenang-wenang itu; kaum Fir'aun, mengapakah mereka tidak bertakwa?
Musa merasa terkejut karena ia telah menerima perintah secara langsung dari Allah sendiri bahkan ia diizinkan untuk mendengar Suara Allah secara nyata. Meskipun demikian, Musa masih merendah diri dan menyatakan dirinya tidak layak untuk tugas semacam ini, terlebih Musa masih belum dapat melupakan kesalahannya berkenaan dengan kematian seorang Mesir. Musa berkata: "Wahai Tuhanku sungguh aku pernah membunuh seorang manusia yang termasuk golongan mereka, maka aku khawatir mereka akan membunuh diriku; dan sungguh aku khawatir mereka akan membantah diriku sehingga dadaku sempit dan ucapanku tidak lancar, maka utuslah Harun, saudaraku, ia lebih fasih ucapannya dibanding diriku; sehingga utuslah Harun mengiringi diriku sebagai rekanku untuk membantu diriku."

Allah menyatakan bahwa Dialah yang akan membantu Musa serta saudaranya itu, dan Allah berikan kepada mereka berdua kekuasaan yang besar sehingga kaum Fir'aun tidak dapat berbuat apapun terhadap Musa dan Harun, supaya mereka berdua membawa berbagai mukjizat Allah, bahwa orang-orang yang mengikuti Musa merupakan kubu yang berjaya. Allah memerintahkan pula supaya Musa dan Harun tidak khawatir tatkala pergi dengan membawa mukjizat-mukjizat Allah; sebab Allah yang menyertai mereka berdua dan Allah Maha Mendengarkan doa hamba-hambaNya.


Setelah menerima tugas pengutusan, Musa bersegera menyampaikan hal ini kepada keluarganya. Musa menjelaskan bahwa ia harus pergi ke Mesir untuk memenuhi sebuah perintah yang secara khusus Allah sampaikan kepada dirinya di Gunung Sinai. Mereka pun kembali ke rumah Yitro, dan berpamitan untuk berangkat ke Mesir. Musa mendapati Harun sewaktu sampai di wilayah negeri Mesir, Harun berbahagia sebab masih dapat berjumpa dengan Musa dalam keadaan selamat, sebab Harun mengkhawatirkan keadaan Musa sejak kepergian dari istana Mesir, Harun menyampaikan rasa kegelisahannya tentang kaum Fir'aun yang menindas Bani Israel. Walaupun demikian, Musa menentramkan kakaknya seraya menyampaikan kabar gembira bahwa Allah telah menyertai dirinya selama ia tinggal di negeri Madyan serta ia memperoleh dua putra darisana dan bahwa Allah telah memanggil ia untuk menerima pengutusan menghadap kepada Fir'aun, Musa juga menyampaikan bahwa Allah telah mengabulkan permohonan agar Harun diperkenan sebagai rekan Musa sewaktu menghadap kepada Fir'aun.



Musa dan Harun menghadap kepada Fir'aun


Ketika hendak menghadap kepada Fir'aun, Musa memohon perlindungan kepada Allah, Musa berdoa: "Wahai Tuhanku, lapangkan dadaku untuk diriku, dan mudahkan urusanku untuk diriku, dan lepaskan kekakuan lidahku supaya mereka mengerti ucapanku serta jadikan untuk diriku, seorang pengiring dari kalangan keluargaku yaitu Harun, saudaraku; teguhkan kekuatanku bersama dirinya dan teguhkan ia sebagai rekan dalam perjuanganku supaya kami banyak mengagungkan Engkau, dan banyak mengingat Engkau; sungguh Engkaulah Yang Maha Mengawasi kami." Allah berfirman: "Sungguh telah diperkenankan permintaanmu, wahai Musa." Allah berfirman kepada keduanya: "Janganlah kalian berdua khawatir, sesungguhnya Aku menyertai kalian, Akulah Yang Maha Mendengar dan Akulah Yang Maha Mengawasi. Berangkatlah kamu beserta saudaramu membawa berbagai mukjizatKu, dan janganlah kalian berdua melalaikan diri dalam mengingat Aku. Menghadaplah kalian berdua kepada Firaun, sungguh ia telah melampaui batas; lalu berbicaralah kepada Fir'aun melalui ucapan-ucapan yang lemah lembut, kiranya ia tersadar atau takut."

Sewaktu Musa datang ke Istana Mesir, banyak bangsawan dari berbagai negeri hadir atas undangan Fir'aun. Ketika para penjaga istana melihat Musa, tangan dan kaki mereka tidak dapat bergerak sehingga Musa beserta Harun secara mudah menghadap kepada Fir'aun.


Seisi istana Fir'aun terkejut bahwa ada tamu yang tidak bersujud kepada Fir'aun. Fir'aun berkata kepada keduanya: "Pada hari ini segala bangsawan di wilayahku hadir membawa banyak persembahan atas undanganku; supaya mereka bersujud menyembah dewa Mesir, yakni diriku, lalu siapakah kalian berdua yang berani menghadap kepada diriku tanpa merendah diri dan siapakah yang menyuruh kalian datang ke tempat ini dan apakah yang kalian bawa kepada diriku?" Musa berkata: "Wahai Fir'aun, Sesungguhnya kami berdua adalah Utusan Tuhanmu, merupakan kewajibanku untuk tidak mengatakan sesuatu tentang Allah, kecuali yang perkara yang benar; bahwasanya aku menghadap kepada dirimu dengan membawa berbagai bukti nyata dari Tuhanmu, maka serahkan hamba-hamba Allah bersama kami dan jangan menindas mereka; sungguh aku merupakan seorang Utusan yang terpercaya untuk dirimu, dan janganlah kamu menyombongkan diri terhadap Allah, bahwasanya kami telah datang kepada dirimu dengan membawa berbagai Bukti dari Tuhanmu; maka kesejahteraan dilimpahkan untuk orang yang menuruti bimbingan; Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami berdua bahwa Malapetaka itu ditimpakan kepada orang-orang yang mendustakan dan yang berpaling." Akan tetapi Fir'aun mendustakan seraya menyombongkan diri, serta berpaling seraya berusaha menantang.

Fir'aun menjawab: "Bukankah kami pernah mengasuh dirimu di tengah-tengah kami sewaktu kamu masih kanak-kanak dan kamu pernah tinggal di tengah-tengah kami selama beberapa tahun dalam hidupmu dan kamu telah terlibat dalam suatu perkara yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna."

Musa berkata: "Diriku telah melakukan tindakan itu, sewaktu aku termasuk orang-orang yang khilaf; bukankah manusia pasti pernah berbuat dosa? dan Allah adalah Yang Maha Pengampun terhadap segala orang yang bertobat secara tulus maupun orang yang berbuat kebajikan; lalu aku harus melarikan diri meninggalkan kalian ketika aku mencemaskan hukuman kalian, kemudian Tuhanku mengaruniakan Ilmu kepada diriku; serta Dialah yang menjadikan diriku termasuk golongan Utusan, bahwasanya hal ini adalah anugerah yang Allah berikan untuk diriku disebabkan kalian telah memperbudak Bani Israel, akan tetapi Allah menyelamatkan diriku dan Dialah yang melindungi diriku supaya aku menghadap kepada kalian. Ketahuilah bahwa Bani Israel adalah hamba-hamba Allah, oleh sebab itu bebaskan mereka, yakni orang-orang merdeka keturunan Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yakni para hamba milik Allah, Tuhan kami berdua."

Walaupun Fir'aun sebenarnya mempercayai ucapan Musa, namun rasa kesombongan merintangi akal sehat sehingga Fir'aun mengeraskan kalbu serta enggan untuk benar-benar mempercayai ucapan Musa, Firaun berkata: "Lalu siapakah Tuhan kalian berdua, wahai Musa?" Musa berkata: "Tuhan kami berdua ialah Yang telah Menentukan rancangan pada tiap-tiap sesuatu, kemudian Dialah yang memberinya petunjuk" Firaun berkata: "Dan bagaimanakah keadaan umat-umat terdahulu?" Musa menjawab: "Pengetahuan tentang itu berada dalam sebuah Kitab pada sisi Tuhanku, Tuhan kami berdua takkan salah dan Dia takkan lupa, Tuhan kami berdua adalah Tuhannya semesta alam." Fir'aun bertanya: "Siapa Tuhannya semesta alam itu?" Musa menjawab: "Tuhan yang Menciptakan langit beserta bumi maupun yang ada antara keduanya." Fir'aun berkata kepada orang-orang di sekelilingnya: "Apakah kalian tidak mendengarkan?" Musa berkata kepada seisi istana itu: "Tuhan kalian maupun Tuhannya para leluhur kalian yang terdahulu." Fir'aun berkata kepada seisi istana: "Sesungguhnya Utusan yang diutus kepada kalian benar-benar orang gila." Musa berkata: "Tuhannya Timur maupun Barat beserta yang berada antara keduanya, jika kalian memang mempunyai akal" Fir'aun berkata: "Sungguh apabila kamu menyembah dewa selain aku, pasti akan aku menjadikan dirimu sebagai orang yang hina."Musa berkata: "Dan bagaimanakah jika aku tunjukkan kepada dirimu berbagai Bukti yang nyata?" Fir'aun berkata: "Buktikan hal yang nyata itu, jika kamu termasuk golongan yang benar." maka Musa melemparkan tongkatnya, yang tiba-tiba tongkat itu menjelma sebagai seekor ular yang nyata, kemudian Musa mengeluarkan tangannya maka seketika itu pula tangannya menjadi putih bercahaya bagi orang-orang yang memandang. Namun Fir'aun justru berkata: "ia adalah seorang ahli sihir yang mahir."

Melihat kedua mukjizat ini, Fir'aun serta para pemuka kaumnya justru meremehkan Musa; para pemuka kaum Fir'aun turut berlaku congkak dan mengingkari Musa walaupun di dalam hati mereka beriman kepada Musa; para pemuka kaum Fir'aun menyatakan bahwa kedua tindakan Musa merupakan sihir yang dibuat-buat, Musa pun membantah: "Apakah kalian mengatakan terhadap Bukti Kebenaran sewaktu ia datang kepada kalian: "Bukankah ini sihir?" padahal ahli-ahli sihir tidaklah mendapat kemenangan." Akan tetapi kaum Fir'aun tetap berdalih: "Apakah kalian berdua datang kepada kami untuk memalingkan kami dari segala yang kami dapati telah dikerjakan oleh kaum leluhur kami, bahkan kami belum pernah mendengar hal ini dari leluhur kami ataukah supaya kalian berdua mempunyai kedudukan di muka bumi? sungguh kami takkan mempercayai kalian berdua." Harun menjawab: "Apakah kalian lebih mempercayai ucapan dari leluhur kalian yang telah mati dibanding Tuhan Yang Menghidupkan diri mereka maupun diri kalian? dan benarkah kalian merasa memiliki kedudukan di bumi?, Tidakkah kalian ingat bahwa kalian tidak ada sama sekali pada waktu langit dan bumi diciptakan? dan tidakkah kalian akan lenyap di muka bumi dalam keadaan serupa dengan tanah? maka bukankah Tuhan yang mengaruniakan kedudukan kepada orang yang Dia perkenan serta Dialah yang merenggut pula kedudukan itu dari orang yang Dia kehendaki."

Fir'aun dan para pemuka kaumnya tidak memperhatikan ucapan keduanya melainkan berlagak seraya meninggikan diri dan mereka congkak dengan hanya membandingkan kedudukan duniawi; kaum Fir'aun mengatakan: "Apakah kami percaya kepada dua orang manusia yang serupa diri kami juga, padahal kalangan mereka berdua merupakan orang-orang yang menghambakan diri terhadap kita?" dengan demikian mereka berani menyombongkan diri terhadap perintah-perintah Allah yang disampaikan melalui kedua UtusanNya, Musa dan Harun. Musa menjawab: "Tuhanku lebih Mengetahui tentang orang yang patut membawa Bimbingan dari sisiNya, dan kelak kalian akan mengerti siapa yang akan memperoleh pencapaian di negeri Akhirat; bahwa sebenarnya Bani Israel merupakan hamba-hamba Allah sebab Allah adalah Pemilik mereka. dan Allah hendak mengadakan Perjanjian kepada mereka sebagai umat yang istimewa, dan ketahuilah bahwa orang-orang yang berlaku sewenang-wenang takkan memperoleh kemenangan dan sungguh aku berlindung pada Tuhanku maupun Tuhanmu, terhadap keinginanmu merajam diriku; dan sekiranya kamu tidak beriman pada diriku maka biarkan aku."

PERTARUNGAN MELAWAN PARA AHLI SIHIR

Seisi istana Mesir takjub terhadap dua mukjizat yang dihadirkan pada diri Musa, mereka pun merasa kesulitan untuk membantah bukti jelas di hadapan mata mereka sendiri. Pada akhirnya mereka menganggap bahwa Musa dan Harun adalah dua ahli sihir yang sedang mengadakan sihir supaya meruntuhkan kedudukan Fir'aun di negeri Mesir. Firaun berkata: "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami mempergunakan sihirmu itu, wahai Musa? dan kami pun pasti akan mendatangkan pula sihir semacam itu di hadapanmu maka adakan suatu waktu pertandingan antara kami melawan kamu, yang tidak akan kami salahi dan tidak pula kamu dicurangi, pertandingan itu bertempat di pusat negeri." Musa berkata: "Waktu untuk pertandingan melawan kalian ialah di sebuah hari raya, dan hendaklah banyak orang dikumpulkan pada waktu matahari terbit." lalu Firaun berpaling serta merencanakan tipu daya, kemudian ia datang. Musa berkata kepada mereka: "Celakalah kalian, janganlah kalian mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, yang dapat menyebabkan Dia menumpas kalian melalui Malapetaka pedih. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kedustaan pasti ditimpa celaka." kaum Fir'aun berbantah-bantahan tentang urusan mereka dan mereka merahasiakan percakapan itu. Terdapat salah seorang tokoh bangsawan Mesir yang berusaha menyadarkan Fir'aun tentang azab Ilahi seraya mengingatkan tentang ajaran Yusuf semasa berkuasa di Mesir. Akan tetapi, Fir'aun justru meninggikan diri seraya menyatakan bahwa dirinya lebih benar dibanding Musa.

Sewaktu mendapati penolakan dari Fir'aun, tokoh bangsawan tersebut berusaha menyadarkan kaum Fir'aun tentang kesia-siaan kehidupan duniawi serta menganjurkan mereka supaya beriman kepada Allah. Namun para pengikut Fir'aun justru mengajak supaya kafir terhadap Allah. Tatkala tokoh bangsawan tersebut berserah diri kepada Allah, Allah melindunginya terhadap berbagai azab yang melanda kaum Fir'aun.


Tatkala pertandingan itu dilaksanakan, banyak orang hadir termasuk kalangan Bani Israel dan para bangsawan yang diundang oleh Fir'aun. Fir'aun bekata: "Pada hari ini semua orang akan mengakui siapakah yang lebih kuat, Utusan yang dihadirkan oleh Tuhannya Bani Israel ataukah para utusan yang dihadirkan oleh dewa Mesir, yakni diriku. semoga kita mengikuti kubu yang menang; sebab betapa terhormat kubu yang menang pada hari ini!"

Tatkala ahli sihir itu datang kepada Fir'aun, mereka mengatakan: "Benarkah kami akan mendapat upah apabila kami yang menang?" Fir'aun menjawab: "Tentu saja, kalian pasti akan dijadikan golongan terhormat yang didekatkan." Ketika Musa muncul menghadapi orang-orang itu, para ahli sihir berkata: "Wahai Musa, kamukah yang hendak melempar terlebih dahulu, ataukah kami yang hendak melemparkan?" Musa menjawab: "Lemparkanlah!" Tatkala mereka melempar, tali-tali dan tongkat-tongkat mereka tampak seolah merayap cepat lantaran tipu daya sihir, sehingga mengelabui penglihatan banyak orang dan menjadikan banyak orang itu takut, serta para ahli sihir itu menampakkan sihir yang menakjubkan. Setelah itu, Allah berfirman kepada Musa: "Jangan takut, sungguh kamulah yang paling unggul dan lemparkan yang berada ada di tangan kananmu, niscaya itu akan menelan apa yang mereka tipu dayakan sebab yang mereka perbuat itu merupakan tipu daya tukang sihir." Para ahli sihir berkata: "Demi kekuasaan Fir'aun, kami benar-benar akan menang." Allah berfirman: "Dan tidak akan menang tukang-tukang sihir itu, bagaimanapun mereka bertindak" Musa berkata: "Apa yang kalian lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah yang akan menampakkan kelemahannya; sungguh Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya tindakan orang-orang yang mengadakan kekacauan dan Allah akan mengokohkan Kebenaran melalui KetetapanNya walaupun orang-orang yang berdosa tidak menyukai hal ini." dan Allah wahyukan kepada Musa: "Lemparkan tongkatmu!" kemudian seketika tongkat itu menelan benda-benda yang mereka sihirkan, sehingga Kebenaran yang berjaya, sedangkan segala yang para ahli sihir usahakan menjadi sia-sia.


Para ahli sihir tersebut takluk di tempat itu dan mereka menjadi orang-orang yang kalah; bahkan menundukkan diri seraya bersujud, mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhannya semesta alam, Tuhannya Musa maupun Harun." Fir'aun berkata: "Apakah kalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepada kalian? ini pasti adalah suatu muslihat yang telah kalian rencanakan di dalam kota ini untuk menyesatkan seisi penduduknya melalui perkara demikian, sungguh ia adalah pemimpin kalian yang mengajarkan sihir kepada kalian. kelak kalian akan mengetahui bahwa aku akan memotong tangan beserta kaki kalian secara bersilang dan bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kalian akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kejam dalam menyiksa." Ahli-ahli sihir itu menjawab: "Sesungguhnya kepada Tuhan, kami berpulang. kami takkan lebih mengutamakan kamu dibanding berbagai bukti nyata yang telah datang kepada kami maupun dibanding Tuhan yang telah menciptakan kami. maka putuskan perkara yang hendak kamu putuskan, bahwa kamu hanya dapat bertindak dalam kehidupan di dunia ini saja; sungguh kami telah beriman kepada Tuhan kami, kiranya Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami maupun sihir yang telah kamu paksakan supaya kami lakukan.

Bahwasanya Allah adalah Yang Terbaik dan Yang Abadi. Sungguh barangsiapa menghadap kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa maka sungguh disediakan Neraka Jahanam untuk orang itu, kemudian orang itu tidak mati dan tidak hidup disana, sedangkan barangsiapa menghadap kepada Tuhannya dalam keadaan beriman serta bersungguh-sungguh memperbuat berbagai kebajikan, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh kedudukan-kedudukan terhormat; Surga 'Adn yang dialiri sungai-sungai di bawahnya, mereka disana selamanya. Dan itulah balasan untuk orang yang murni dan kamu tidak menyalahkan kami melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami tatkala ayat-ayat itu datang kepada kami; sungguh kami sangat menginginkan kiranya Tuhan kami mengampuni berbagai kesalahan kami, karena kami adalah orang-orang yang bersegera untuk beriman." Para ahli sihir itu berdoa: "Ya Tuhan kami, limpahkan kesabaran kepada kami dan wafatkan kami dalam keadaan berserah diri."


BERDAKWAH KEPADA BANI ISRAEL

Mendapati kubu kaum Fir'aun takluk dalam pertarungan melawan Musa, banyak penduduk Mesir menghormati kedudukan Musa serta mengakui Musa sebagai Utusan Allah.

Walaupun semula kaum Fir'aun berniat untuk merendahkan Musa dan supaya menyamakannya sebagai tukang sihir, mereka justru mendapati banyak orang meyakini bahwa Musa bukan seorang manusia biasa bahkan penduduk Mesir itu sendiri ketakutan untuk bertindak sesuatu terhadap Musa. Tatkala Bani Israel merasa yakin bahwa Allah telah mengutus Musa untuk mereka, maka banyak orang dari Bani Israel yang meminta perlindungan kepada Musa menghadapi penindasan kaum Fir'aun; Musa pun menyatakan bahwa ia bukanlah yang sanggup dimintai pertolongan melainkan ia memerintahkan Bani Israel supaya memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Melindungi; serta Musa mengingatkan bahwa Bani Israel adalah kaum keturunan pewaris Ibrahim, Ishaq danYa'qub; ketiga manusia yang dipilih Allah, berdasar sikap penghambaan kepada Allah, oleh sebab itu Bani Israel juga harus meneladani sikap Ibrahim yang setia dan bersedia mengorbankan banyak hal sekalipun nyawanya sendiri, demi membuktikan ketulusan pengabdiannya untuk Allah. Sehingga Bani Israel membuktikan diri sebagai orang-orang yang rela menyerahkan apapun untuk Allah serta supaya mereka teruji setia kepada Allah dalam segala keadaan. Sebagaimana Ibrahim memperoleh janji dari Allah bahwa seisi bumi diwariskan untuk kaum keturunan Ibrahim, yakni orang-orang yang bersedia benar-benar menghamba kepada Allah. Musa memberitahukan pula bahwa Bani Israel sebagai kaum keturunan Ibrahim akan memperoleh perjanjian abadi tentang berbagai karunia istimewa dari Allah. Musa juga memohon kepada Allah supaya menumpas para musuh Bani Israel dan Musa berdoa supaya kelak Bani Israel menjadi kaum penguasa dan kaum pewaris di muka bumi.


Mayoritas Bani Israel yang telah diperbudak bangsa Mesir, merasa tidak berani menyatakan sikap keimanan kepada Allah sehingga tiada yang terang-terangan menyatakan beriman kepada Musa selain para pemuda dari kalangan suku Lawwy yang berada dalam keadaan khawatir bahwa Fir'aun beserta para pemuka kaum Fir'aun hendak menindas mereka juga,sebab hanya suku ini yang tidak turut diperbudak di Mesir. Musa berkata: "Wahai kaumku, jika kalian beriman kepada Allah maka hendaklah kalian menaruh kepercayaan kepada Dia saja, apabila kalian memang berserah diri." lalu mereka berkata: "Kepada Allah, kami menaruh kepercayaan!", mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami, jangan kiranya Engkau jadikan kami sasaran penindasan bagi golongan yang sewenang-wenang itu, dan selamatkan kami melalui anugerahMu menghadapi orang-orang kafir." Allah mewahyukan kepada Musa beserta Harun supaya mendirikan rumah-rumah di negeri Mesir sebagai tempat tinggal bagi kalangan mereka serta supaya menyediakan tempat-tempat shalat di rumah-rumah itu. Allah juga memerintahkan mereka mendirikan shalat serta menenangkan kegelisahan orang-orang beriman.

KESOMBONGAN FIR'AUN BESERTA PARA PENGIKUTNYA

Fir'aun mendapati banyak orang yang tidak mau lagi menyembah dirinya dan para pemuka dalam kaum Fir'aun juga menyampaikan rasa khawatir tentang Bani Israel yang mulai menolak bekerja sebagai budak seraya mengatakan bahwa tuan Bani Israel bukanlah orang-orang Mesir melainkan Allah, Tuhannya para leluhur mereka, serta mereka menyatakan bahwa Allah akan menghadirkan hukuman-hukuman pedih kepada orang-orang yang menyakiti hamba-hambaNya. Fir'aun tetap berkeras diri seraya berkata: "Wahai kalangan pemuka kaumku, aku tidak mengetahui ada dewa bagi kalian selain diriku" lalu Fir'aun memerintahkan Haman mendirikan bangunan yang tinggi supaya Fir'aun dapat naik sampai ke gerbang-gerbang langit untuk melihat Tuhannya Musa, sebab Flr'aun menganggap Musa termasuk golongan pendusta. Fir'aun dan bala pasukannya berlaku angkuh di muka bumi dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Allah.

Dalam kesombongan diri, Fir'aun berseru kepada kaumnya: "Wahai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini milikku beserta sungai-sungai yang mengalir di bawahku maka apakah kalian tidak mengetahui? bukankah aku lebih baik dibanding orang hina dan hampir tidak dapat menjelaskan? mengapa tidak dipakaikan pada dirinya; gelang emas ataupun malaikat hadir bersama-sama dengan ia." maka Fir'aun berhasil membujuk kaumnya sebab mereka merupakan kaum yang fasik.Kemudian Musa mengadu kepada Tuhannya: "Sesungguhnya kaum ini adalah kaum yang berdosa."

Dan Fir'aun berkata: "Biarkan aku yang membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sungguh aku khawatir ia akan mengganti agama kalian ataupun menimbulkan kekacauan di muka bumi." Musa berkata: "Sungguh aku berlindung kepada Tuhanku maupun Tuhanmu terhadap segala orang congkak yang tidak beriman terhadap Hari Perhitungan." Musa dan Harun mengadu kepada Allah: "Wahai Tuhan kami, sungguh Engkau telah memberi kepada Fir'aun serta para pemuka kaumnya; perhiasan maupun harta kekayaan duniawi. Wahai Tuhan kami, sungguh mereka telah menyimpang terhadap JalanMu. Wahai Tuhan kami, binasakan harta benda mereka, dan keraskan kalbu mereka sehingga mereka tidak beriman sampai ketika mereka ditimpa Malapetaka pedih." Allah berfirman: "Sesungguhnya telah diperkenan pengaduan kalian berdua, oleh sebab itu tetaplah kalian berdua berada pada Jalan Lurus dan janganlah sekali-kali kalian mengikuti adat orang-orang yang tidak mengetahui."

Demikianlah Fir'aun menganggap baik perbuatan keji itu; dan ia dihalangi untuk menerima Kebenaran; dan tindakan Fir'aun itu tidak lain hanyalah menimbulkan celaka. Maka ia mengumpulkan lalu memanggil kaumnya. Fir'aun berkata: "Akulah dewa kalian yang paling hebat." Kemudian Allah menetapkan Ketetapan bahwa kaum Fir'aun termasuk golongan yang pantas dibinasakan; maka Allah meneguhkan Ketetapan untuk menumpas Fir'aun melalui Hukuman pedih di Akhirat maupun di dunia.

HUKUMAN-HUKUMAN TERHADAP KAUM FIR'AUN

Akibat kaum Fir'aun menolak menuruti perintah-perintah Allah melalui Musa dan Harun; maupun menolak melepas golongan hamba Allah, yakni Bani Israel, maka Allah menimpakan berbagai hukuman bencana kepada bangsa Mesir melalui musim kemarau yang lama dan jumlah buah-buah yang sedikit supaya kaum Fir'aun tersadar atas kedurhakaan mereka; kemudian Allah timpakan kesembilan bencana dahsyat melalui perantaraan Musa, yang juga diketahui oleh Bani Israel. Allah menimpakan berbagai bencana yang semakin pedih kepada kaum Fir'aun; yakni berupa angin topan, wabah belalang, kutu, katak serta darah sebagai berbagai Bukti azab Ilahi namun kaum Fir'aun tetap menyombongkan diri.

Sewaktu kaum Fir'aun ditimpa bencana; mereka tuduhkan penyebab bencana itu kepada Musa beserta orang-orang yang bersama dirinya. Lalu mereka memohon seraya berjanji kepada Musa: "Wahai Musa, mohonkan untuk kami kepada Tuhanmu mempergunakan kenabian yang diakui Allah berada pada sisimu; sungguh jika kamu dapat menghilangkan bencana itu dari tengah-tengah kami, pasti kami akan beriman kepada dirimu dan kami akan melepaskan Bani Israel pergi bersama dirimu" setelah Allah menghilangkan bencana itu terhadap kaum Fir'aun hingga batas waktu tertentu, tiba-tiba kaum tersebut justru melanggar janji mereka sendiri sambil mengatakan: "Ini adalah karena usaha kami sendiri" kaum Fir'aun tetap berkeras diri serta enggan mengakui bahwa bencana-bencana itu berasal Ketetapan Allah. kaum Fir'aun berkata kepada Musa: "Bagaimanapun kamu mendatangkan berbagai Bukti kepada kami untuk menyihir kami mempergunakan bermacam-macam Bukti itu, sungguh kami takkan beriman kepada dirimu." kaum Fir'aun tidak mempertimbangkan berbagai Bukti tersebut sebab mereka sewenang-wenang menyombongkan diri terhadap Allah sehingga sebuah Keputusan telah mutlak bagi Allah, bahwa kaum Fir'aun merupakan kaum takabur yang pantas untuk dibinasakan.

Fir'aun bahkan mengumpulkan seluruh penduduk Mesir dan memerintahkan mereka supaya mengadakan sumpah kepada anak-anak mereka agar kelak melenyapkan seluruh pengikut Musa dari tanah Mesir, kemudian Fir'aun pergi menemui Musa: "Sungguh aku menganggap dirimu, wahai Musa, sebagai seorang yang kena sihir."

Musa menjawab: "kamu sebenarnya telah memahami, bahwa tiada yang sanggup menghadirkan mukjizat-mukjizat maupun bencana-bencana itu selain Tuhan Yang Memelihara langit maupun bumi sebagai berbagai bukti yang nyata, dan sesungguhnya aku menganggap dirimu, wahai Fir'aun, sebagai seorang yang akan binasa." maka Allah melindungi Musa terhadap tindakan jahat mereka. Fir'aun pun berkata: "Mungkin kami akan binasa, namun ketahuilah bahwa kami telah mewariskan sumpah kepada anak-anak dan cucu-cucu kami supaya mereka bersumpah melenyapkan anak cucu kalian dan melenyapkan nama kalian dari muka bumi ini." Musa pun menjadi geram seraya menjawab: "Maka camkanlah! sesungguhnya Allah telah bersumpah bahwa bumi ini diwariskan untuk Ibrahim dan keturunannya; keturunan Ishaq, yang kemudian diwariskan kepada Israel, dan mereka inilah golongan pewaris Israel; lalu betapa keji niat kalian itu! kiranya Allah yang membunuh anak-anak kalian dan kiranya Dialah yang melenyapkan nama kalian dari muka bumi pada malam ini juga."

Kemudian Allah memerintahkan Bani israel melalui Musa supaya mereka beribadah secara bersungguh-sungguh pada malam tersebut sebab Allah sendiri hendak datang pada malam tersebut untuk menimpakan hukuman terakhir kepada kaum Fir'aun, yakni membunuh seluruh anak-anak kaum Fir'aun akibat anak-anak itu telah bersumpah untuk melenyapkan keturunan para pengikut Musa.

HIJRAH DARI NEGERI MESIR

Allah memerintah Musa supaya mengajak Bani Israel bergegas mempersiapkan perbekalan lalu meninggalkan negeri Mesir. Musa menyampaikan pula kepada Bani Israel agar mereka memuati perbekalan dari negeri Mesir serta mengambil segala barang yang diberikan oleh orang-orang Mesir sebagai upah atas segala pekerjaan mereka di negeri Mesir. Orang-orang Mesir merasa ketakutan terhadap Bani Israel dan orang-orang Mesir menganggap harta benda tidak lagi berguna sejak kematian anak-anak sekaligus kaum pewaris bangsa Mesir. Setelah mendapati seluruh keturunan di istana Fir'aun telah mati, Fir'aun beserta para pemuka kaumnya meratap serta berkabung atas musibah ini.

Sementara Bani Israel mengambil banyak harta benda dan perhiasan di negeri Mesir, Musa mencari sebuah warisan berharga dari keluarga Ya'qub yang masih berada di tanah Mesir dan ia berhasil menemukannya, yakni jasad Yusuf yang telah lama disembunyikan oleh kaum pemuka bangsa Mesir. Sewaktu masih tinggal di istana Fir'aun; Musa mengetahui kabar bahwa kaum pemuka bangsa Mesir telah mengawetkan jasad Yusuf di sebuah tempat khusus. Oleh sebab Yusuf merupakan pewaris utama dari berkat Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub; sehingga dimanapun jasad Yusuf berada maka Allah akan melimpahi kemakmuran di wilayah itu. Musa menyadari pula bahwa Allah telah menjanjikan Yusuf sebagai tanda penyelamatan untuk Bani Israel. Sebagaimana Allah telah memuliakan kedudukan Yusuf, yang bertujuan menyelamatkan keberlangsungan hidup seluruh keluarga Ya'qub melalui kedatangan mereka ke negeri Mesir semasa menghadapi wabah kelaparan; demikian halnya Allah akan berkenan menyelamatkan Bani Israel sewaktu meninggalkan negeri Mesir apabila umat itu bersedia menghargai jasa-jasa Yusuf, yakni melalui pengangkutan jasad putra kesayangan Israel ini berpulang menuju tanah airnya.

PEMBELAHAN LAUT MERAH

Bani Israel meninggalkan negeri Mesir dalam keadaan terburu-buru sebab Allah telah memerintahkan supaya bergegas berangkat pada malam tersebut. Bani Israel mengangkut banyak ternak serta muatan harta benda saat berangkat dari negeri Mesir. Allah juga menghadirkan sebuah naungan yang melindungi Bani Israel dalam keberangkatan ini. Sementara itu, ketika seisi istana Fir'aun sedang meratapi segala bencana yang telah melanda mereka; Fir'aun masih tetap berkeras diri dan berusaha menyesatkan kaumnya. Akibat menolak mengakui Bani Israel sebagai hamba-hamba Allah, Fir'aun maupun seluruh pengikutnya berikrar untuk melenyapkan mereka dari muka bumi. Akan tetapi kaum Fir'aun merasa sangat murka ketika mendapati tiada seorang pun dari Bani Israel masih berada di negeri Mesir; Fir'aun berkata: "Sesungguhnya mereka benar-benar golongan kecil, dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan kemurkaan kita dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga."

Maka Fir'aun dan bala tentaranya menyiapkan kendaraan untuk mengejar Bani Israel dan hampir menyusuli mereka di pesisir Laut Merah sewaktu matahari terbit; setelah kedua golongan itu dapat saling melihat, para pengikut Musa berkata: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul." Musa menjawab: "Mustahil akan tersusul; sebab Tuhanku menyertai diriku; bahwa Dialah akan memberi petunjuk kepada diriku." lalu Allah wahyukan kepada Musa: "Pukulah lautan itu mempergunakan tongkatmu!" seketika lautan itu terbelah dan tiap-tiap belahan laut menyerupai pegunungan besar kemudian Bani Israel segera melalui jalan kering diantara lautan yang terbelah itu; Bani Israel percaya bahwa Allah yang telah menghadirkan mukjizat yang bertujuan menyelamatkan mereka terhadap kejaran bala tentara Fir'aun.

Bala tentara Fir'aun turut menyaksikan salah satu keajaiban terbesar yang Allah karuniakan untuk Bani Israel; bala tentara ini berhenti seraya takjub terhadap kejadian ini. Namun kesombongan Fir'aun kembali memaksa dirinya untuk mengingkar, Fir'aun berkata: "Apakah kita datang ke tempat ini agar duduk dan menyaksikan Bani Israel pergi begitu saja, bukankah kita telah bersumpah supaya mencincang dan melenyapkan mereka dari muka bumi," seketika kaum Fir'aun segera bergegas ke jalan kering di tengah-tengah lautan itu. Sewaktu kaum Fir'aun berada di tengah-tengah tanah kering itu, tiba-tiba mereka merasa kelelahan dan tidak sanggup bergerak, maka Allah hantamkan kedua lautan itu untuk menenggelamkan serta menghancurkan tubuh bala tentara Fir'aun menjadi berkeping-keping. Ketika Fir'aun hampir tenggelam; ia berucap: "Saya percaya bahwa tiada Tuhan selain Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri." Namun Allah menolak pernyataan ini sebab Fir'aun telah mendurhaka sejak dahulu tatkala Fir'aun berada dalam keadaan makmur; serta Fir'aun termasuk orang-orang yang mengadakan kekacauan di muka bumi. Pada hari itu Allah luputkan jasad Fir'aun dari hancur berkeping-keping supaya Fir'aun menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya.

kaum Fir'aun dinaungi kutukan di dunia maupun kutukan di Akhirat, bahwa pada hari kiamat Fir'aun akan memimpin kaumnya lalu melempar mereka sebagai golongan yang dicampakkan ke dalam Neraka oleh sebab kaum Fir'aun membantah serta menyombongkan diri terhadap segala perintah Allah maupun segala mukjizat Allah, serta akibat memandang rendah dua Utusan Allah, Musa dan Harun, bahkan kaum tersebut secara sewenang-wenang memperlakukan Bani Israel, umat milik Allah, maka Allah jadikan kaum Fir'aun sebagai kiasan dan contoh bagi generasi terkemudian.

PERJALANAN MENUJU NEGERI WARISAN

Melalui penyelamatan Bani Israel terhadap bala tentara Fir'aun; Allah telah menggenapi Ketetapan yang baik untuk Bani Israel sebagai umat yang diselamatkan Allah oleh karena kesabaran mereka, dan telah Allah hancurkan segala yang telah dirancang maupun yang telah didirikan oleh Fir'aun beserta kaumnya. Allah hendak memberi "negeri warisan" kepada kaum yang telah ditindas itu, bagian timur bumi dan bagian baratnya yang telah Allah berkahi.

Setelah Bani Israel berada seberang lautan itu, mereka sampai kepada suatu kaum penyembah berhala, sebagian dari mereka berkata: "Wahai Musa, dirikan untuk kami sebuah dewa sebagaimana mereka mempunyai beberapa dewa." Musa menjawab: "Sesungguhnya kalian ini adalah golongan yang tidak mengetahui, sebab mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianut oleh mereka sendiri dan akan sia-sia segala hal yang selalu mereka kerjakan." lalu Musa berkata : "Patutkah aku mencari sembahan untuk kalian selain Allah, padahal Dialah yang telah mengistimewakan kalian melampaui semesta alam."

Sewaktu jumlah perbekalan makanan semakin sedikit; Bani Israel sering mengeluh kepada Musa tentang yang akan mereka makan maupun yang akan mereka minum dalam perjalanan ini. Kemudian Allah menurunkan hujan mannasebagai makanan khusus untuk seluruh umat itu, serta Allah sediakan sumber minuman untuk umat ini berupa banyak aliran sungai melalui celah bebatuan. Allah hendak menyadarkan Bani Israel supaya senantiasa mengingat seraya bersyukur bahwa segala makanan berasal dari langit oleh karena Kebaikan Allah, sebab Allah yang telah mengaruniakan air yang menghujani bumi untuk dapat menumbuhkan berbagai tanaman yang dimakan banyak makhluk seisi bumi. Sebagai anugerah istimewa, Allah karuniakan makanan yang secara langsung turun dari langit untuk sebuah umat pilihan di semesta alam. Allah juga menghadirkan naungan awan kemuliaan yang melindungi Bani Israel terhadap terik matahari maupun udara malam hari.

PERJANJIAN ABADI ANTARA ALLAH DENGAN BANI ISRAEL

Setelah mengantarkan para pengikutnya menuju Gunung Sinai yang telah dijanjikan sebagai tempat mengadakan Perjanjian antara Allah dengan Bani Israel; Musa terlebih dahulu menghadap kepada Allah supaya mendapat perkenan Allah. Kemudian Allah memerintahkan melalui Musa supaya Bani Israel menguduskan diri serta membersihkan diri selama beberapa hari sebelum hendak mengadakan perjanjian kepada Allah. Pada Hari Perjanjian, terdapat segolongan orang yang masih meragukan kerasulan Musa; golongan tersebut berkata: "Wahai Musa, kamu telah menunjukkan berbagai tindakan luar biasa di hadapan kami dan kamu pun mengalahkan para ahli sihir bahkan membungkam dan menaklukkan seisi Istana Fir'aun; akan tetapi benarkah kamu diutus oleh Allah? bagaimana mungkin kami meyakinkan diri terhadap hal itu? bahwa kami tak akan beriman kepadamu sebelum kami benar-benar melihat Allah secara nyata."

Kemudian Allah pun menghadirkan "KemuliaanNya" di atas Gunung Sinai seraya menyampaikan Suara Ilahi diiringi gemuruh petir dan kilat menyambar; Suara Ilahi tersebut berisi berbagai ikrar perintah kepada seluruh Bani Israel. Allah bahkan mengangkat Gunung Sinai diatas kepala seluruh Bani Israel supaya umat itu berikrar teguh untuk berpedoman terhadap segala yang diperintahkan oleh Allah; dengan harapan Bani Israel senantiasa mengingat segala perintah Allah sehingga mereka membuktikan diri sebagai hamba-hamba yang hanya tunduk kepada Allah. Perjanjian Allah ini tidak hanya berlaku kepada Bani Israel semata.
Bynix Saya hanyalah blogger pemula yang ingin sukses didunia blogging

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel